“Hiburan Rakyat Dikriminalisasi: Lomba Kelereng di Sampang Dituding Judi Usai Oknum Gagal Memalak Warga”

- Penulis

Sabtu, 24 Januari 2026 - 14:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sampang — Saat ruang hiburan rakyat kian menyempit dan warga dipaksa menelan mahalnya hiburan modern, lomba kelereng justru muncul sebagai napas terakhir kehidupan kampung di sejumlah wilayah Kabupaten Sampang. Digelar terbuka di Desa Paseyan, Dusun Kaso’an, Desa Aengsareh, hingga Jalan Aji Gunung, Kelurahan Gunung Sekar, Kecamatan Sampang, permainan tradisional ini menjadi simbol perlawanan warga terhadap matinya ruang kebersamaan, sekaligus bebas dari unsur perjudian.

Ironisnya, kegiatan rakyat yang jujur dan terbuka ini justru diserang tudingan liar, fitnah murahan, dan stigma judi yang tidak berdasar. Warga menegaskan, tuduhan tersebut bukan sekadar keliru, melainkan bentuk pembunuhan karakter terhadap aktivitas sosial masyarakat kecil.

Murad, warga Desa Paseyan, menegaskan lomba kelereng yang digelar di wilayahnya murni hiburan rakyat dan ajang silaturahmi, bukan praktik perjudian seperti yang coba dipaksakan melalui opini sesat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pernah dibubarkan karena dituduh judi. Setelah dicek, itu bohong. Tidak ada taruhan, tidak ada uang. Sekarang kami terbuka, tertata, dan jelas,” tegas Murad, Sabtu (24/01).

Menurutnya, menyematkan label judi pada lomba kelereng adalah upaya memelintir fakta dan menyesatkan publik. Ia menilai tudingan tersebut mencerminkan ketidakmampuan pihak tertentu membedakan antara hiburan tradisional dan praktik perjudian yang sesungguhnya.

“Judi itu ada taruhan, ada uang. Ini lomba keterampilan. Kalau ini disebut judi, berarti logika sudah dibunuh,” ujarnya keras.

Murad kemudian membongkar fakta yang lebih memuakkan. Ia mengungkap adanya oknum yang sempat meminta “jatah rokok” dalam kegiatan lomba. Permintaan itu ditolak warga. Sejak penolakan itulah, fitnah perjudian mulai disebar.

“Ada preman minta jatah rokok. Tidak kami beri. Setelah itu muncul isu kalau ini judi. Ini bukan kebetulan,” bebernya.

Pernyataan tersebut memperkuat dugaan bahwa tudingan judi bukan lahir dari kepedulian hukum, melainkan reaksi sakit hati oknum yang gagal memalak warga.

Muhammad, warga Desa Aengsareh, menegaskan lomba kelereng digelar terang-terangan, disaksikan anak-anak hingga orang dewasa, tanpa ada praktik sembunyi-sembunyi.

“Kalau judi biasanya sembunyi. Ini terbuka, semua orang lihat. Kampung jadi hidup. Tidak ada yang kami tutupi,” katanya.

Sementara itu, Sulaiman, warga Jalan Aji Gunung, menyebut lomba kelereng sebagai hiburan rakyat paling jujur di tengah mahalnya hiburan yang hanya ramah bagi kantong tebal.

“Sekarang mau hiburan harus bayar. Lomba kelereng ini gratis. Semua bisa ikut, semua bisa nonton,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut justru menyelamatkan anak-anak dari kecanduan gawai dan mengembalikan interaksi sosial yang mulai terkikis.

“Daripada anak-anak dikurung HP, lebih baik main kelereng. Ada tawa, ada interaksi, kampung jadi hidup lagi,” tegasnya.

Bagi warga, lomba kelereng bukan sekadar permainan, melainkan benteng terakhir hiburan tradisional yang masih bertahan dari gempuran stigma, fitnah, dan kepentingan kotor oknum tertentu.

Warga juga menegaskan tidak alergi pengawasan dan justru menantang aparat atau pihak terkait untuk memantau langsung kegiatan tersebut.

“Silakan awasi. Kami tidak takut. Yang takut itu justru yang menyebar fitnah,” kata Murad.

Lomba kelereng, yang telah mengakar lama di tengah masyarakat, kini berdiri sebagai tamparan keras bagi siapa pun yang gemar melabeli hiburan rakyat sebagai kejahatan, sekaligus bukti bahwa masyarakat kecil masih mampu menjaga martabatnya di tengah tekanan dan stigma yang dipaksakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel lenterapost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pembiaran Aparat Disorot, Balap Kelereng Kembali Berlangsung di Sampang
Kasus Bayi Tewas Mengenaskan Dihentikan, SP3 Polres Bangkalan Digugat di PN
Solar Subsidi Bocor, Polres Sumenep Dinilai Lamban Tetapkan Tersangka
Jejak Digital Berseberangan dengan Rilis Resmi, Penanganan Etik Brigadir Ayu di Polres Sampang Dipertanyakan
“Izin Tak Jelas, Royalti Tak Beres: Konser Valen di Sampang Terancam Dibubarkan”
Menu MBG Disorot: Wali Murid Sebut “Pakan Ayam”, BGN Didesak Tutup SPPG Nakal
Barang Bukti Diamankan, Terduga Bandar Kabur, Polres Sampang Bungkam Soal Status Perempuan
Sidang Praperadilan Bangkalan: Hakim Nilai Propam Polres Tak Mandiri Tangani Perkara
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 08:21 WIB

Pembiaran Aparat Disorot, Balap Kelereng Kembali Berlangsung di Sampang

Senin, 2 Februari 2026 - 14:10 WIB

Kasus Bayi Tewas Mengenaskan Dihentikan, SP3 Polres Bangkalan Digugat di PN

Minggu, 1 Februari 2026 - 07:18 WIB

Solar Subsidi Bocor, Polres Sumenep Dinilai Lamban Tetapkan Tersangka

Sabtu, 31 Januari 2026 - 18:28 WIB

Jejak Digital Berseberangan dengan Rilis Resmi, Penanganan Etik Brigadir Ayu di Polres Sampang Dipertanyakan

Sabtu, 31 Januari 2026 - 13:22 WIB

“Izin Tak Jelas, Royalti Tak Beres: Konser Valen di Sampang Terancam Dibubarkan”

Berita Terbaru