Media Lenterapost
Manado / Sulawesi Utara, 30 Desember 2025 — Media sosial kembali menjadi cermin telanjang bobroknya penegakan hukum. Sebuah komentar viral di TikTok dengan akun @ava16Februari, yang telah ditonton lebih dari 31 ribu kali, memicu kemarahan publik terkait dugaan keberadaan gudang penimbunan BBM solar bersubsidi ilegal yang diduga milik bigbos berinisial Frenli.
Komentar tersebut berbunyi:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
> “biarle nmo sebar sampe di ujung dunia ttp nda m untung jika uang berbicara semua terkendali”
Pernyataan ini dinilai publik sebagai pengakuan sinis sekaligus tamparan keras terhadap wajah hukum di negeri ini. Kalimat singkat tersebut seolah menegaskan keyakinan bahwa kebenaran bisa dikubur, hukum bisa dikendalikan, dan keadilan bisa dibeli.
Kasus dugaan gudang BBM solar subsidi ilegal yang sebelumnya ramai diberitakan, kini kembali menguat setelah komentar viral ini menyebar luas, menimbulkan pertanyaan besar:
Mengapa kasus sebesar ini seperti menguap? Siapa yang melindungi?
Aktivis dan masyarakat sipil menilai komentar tersebut bukan sekadar ocehan warganet, melainkan refleksi keputusasaan publik terhadap aparat penegak hukum (APH) yang dinilai gagal menunjukkan ketegasan dalam memberantas mafia BBM subsidi.
“Jika benar ‘uang berbicara dan semua terkendali’, maka yang dikendalikan bukan hanya kasus, tetapi juga masa depan rakyat kecil yang seharusnya menikmati hak atas BBM subsidi,” ujar salah satu aktivis anti-mafia BBM di Sulawesi Utara.
BBM solar subsidi adalah hak rakyat, bukan komoditas yang boleh dijarah oleh segelintir bigbos dengan jaringan kuat. Penimbunan dan distribusi ilegal bukan kejahatan biasa, melainkan kejahatan ekonomi terorganisir yang merampas hak nelayan, petani, dan masyarakat kecil.
Publik kini menunggu sikap tegas Polri, Kejaksaan, dan Kementerian ESDM, termasuk:
1. Membuka kembali dan mengusut tuntas dugaan gudang BBM solar subsidi ilegal
2. Memeriksa pihak-pihak yang diduga sebagai pemilik dan backing
3. Menjelaskan kepada publik mengapa kasus ini terkesan mandek
Jika aparat kembali memilih diam, maka komentar viral tersebut akan berubah dari sekadar sindiran menjadi vonis moral rakyat terhadap institusi penegak hukum.
“Ketika hukum kalah oleh uang, maka media sosial menjadi pengadilan terakhir rakyat,” tegas pernyataan sikap masyarakat sipil.
Rilis ini menegaskan: kebenaran tidak akan mati hanya karena uang berbicara. Semakin dibungkam, semakin keras suara publik akan melawan.













