“Ketika Pengabdian Berbuah Kehormatan: Mas’udi Hadiwijaya Terima Pengakuan Adat”

- Penulis

Kamis, 25 Desember 2025 - 03:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sampang(lenterapost.id) – Tidak semua peristiwa bermakna lahir dari sorotan dan kemegahan. Sebagian justru tumbuh dari kesunyian panjang, dari kerja yang tekun, konsisten, dan jarang dipamerkan. Senin, 22 Desember 2025, sebuah peristiwa sederhana namun sarat makna itu hadir di Sampang.

Di Gedung PKPRI Sampang, dalam suasana Festival Adat Budaya Nusantara yang khidmat dan bersahaja, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Sampang, Mas’udi Hadiwijaya, S.Pd., M.Pd., menerima sebuah kehormatan yang tak bisa dibeli dengan jabatan atau kekuasaan: Pengakuan Adat, Kamis (25/12/2025).

Festival yang digagas Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Sampang sejatinya dimaksudkan sebagai ruang temu antara dunia pendidikan dan kebudayaan. Namun malam itu, maknanya bertambah dalam. Acara tersebut menjadi momentum penghormatan terhadap sosok pendidik yang dinilai konsisten menjaga hubungan pendidikan dengan akar budaya bangsa.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengusung tema “Harmonisasi Budaya Nusantara dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan Bangsa”, festival ini menghadirkan suasana yang jauh dari kesan seremonial semata. Sekitar 50 tokoh Masyarakat Adat Nusantara (MATRA) hadir bersama para kepala SMA/SMK se-Kabupaten Sampang. Turut hadir pula Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai.

Para tokoh adat yang hadir bukan sekadar tamu undangan. Mereka datang membawa nilai, amanat budaya, serta memori panjang Nusantara—sebuah pengingat bahwa pendidikan sejatinya tumbuh dari kearifan lokal dan identitas bangsa.

Di hadapan raja-raja dan pemangku adat dari berbagai wilayah Nusantara, Mas’udi Hadiwijaya dipanggil ke tengah ruang. Tanpa prosesi berlebihan, tanpa pidato panjang yang dibacakan, ia dianugerahi gelar adat kehormatan dari Praja Mangkualaman Yogyakarta dengan sebutan “Raden Tumenggung Hario.”

Dalam tradisi Jawa, gelar ini bukan simbol kosong. Ia merupakan pengakuan atas integritas pribadi, ketulusan pengabdian, serta kepemimpinan moral yang dijalani dengan konsisten.

Mas’udi dikenal sebagai sosok yang bekerja lebih banyak dalam diam. Ia tidak gemar menonjolkan diri, namun jejak langkahnya terasa. Selama ini, ia mendorong pendidikan yang tidak tercerabut dari nilai budaya, memastikan sekolah bukan hanya mencetak lulusan cerdas, tetapi juga manusia yang memahami jati dirinya.

Dalam sambutannya, Mas’udi menyampaikan kegelisahan yang kerap ia rasakan.

“Generasi muda kita jangan sampai tumbuh asing terhadap budayanya sendiri. Pendidikan harus membentuk karakter, bukan sekadar mengejar capaian akademik,” ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan yang disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai. Ia menegaskan bahwa sekolah seharusnya menjadi garda terdepan pelestarian budaya.

“Pendidikan bukan hanya tentang angka dan raport. Sekolah harus menjadi rumah bagi budaya, tempat nilai-nilai luhur diwariskan,” katanya.

Festival ini menjadi momen langka. Raja-raja dan pemangku adat Nusantara berkumpul dalam satu ruang, satu niat, dan satu pesan bersama: budaya adalah fondasi pendidikan bangsa, bukan sekadar pelengkap yang bisa diabaikan.

Acara ditutup dengan penampilan Poey Stings, musisi asal Malaysia. Alunan lagu demi lagu mengisi malam, hingga akhirnya ditutup dengan “Dalam Diam Aku Mencintaimu.” Lagu itu terasa menjadi epilog yang pas—sebuah metafora tentang pengabdian Mas’udi Hadiwijaya: bekerja tanpa hiruk-pikuk, mencintai pendidikan dan budaya dalam senyap, namun meninggalkan jejak yang mendalam.

Hari itu, Sampang tidak sekadar menggelar festival budaya. Ia menorehkan catatan penting bahwa ketika seorang pendidik diberi pengakuan adat, sesungguhnya yang dihormati adalah komitmen menjaga masa depan bangsa melalui akar budayanya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel lenterapost.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pembiaran Aparat Disorot, Balap Kelereng Kembali Berlangsung di Sampang
Kasus Bayi Tewas Mengenaskan Dihentikan, SP3 Polres Bangkalan Digugat di PN
Solar Subsidi Bocor, Polres Sumenep Dinilai Lamban Tetapkan Tersangka
Jejak Digital Berseberangan dengan Rilis Resmi, Penanganan Etik Brigadir Ayu di Polres Sampang Dipertanyakan
“Izin Tak Jelas, Royalti Tak Beres: Konser Valen di Sampang Terancam Dibubarkan”
Menu MBG Disorot: Wali Murid Sebut “Pakan Ayam”, BGN Didesak Tutup SPPG Nakal
Barang Bukti Diamankan, Terduga Bandar Kabur, Polres Sampang Bungkam Soal Status Perempuan
Sidang Praperadilan Bangkalan: Hakim Nilai Propam Polres Tak Mandiri Tangani Perkara
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 08:21 WIB

Pembiaran Aparat Disorot, Balap Kelereng Kembali Berlangsung di Sampang

Senin, 2 Februari 2026 - 14:10 WIB

Kasus Bayi Tewas Mengenaskan Dihentikan, SP3 Polres Bangkalan Digugat di PN

Minggu, 1 Februari 2026 - 07:18 WIB

Solar Subsidi Bocor, Polres Sumenep Dinilai Lamban Tetapkan Tersangka

Sabtu, 31 Januari 2026 - 18:28 WIB

Jejak Digital Berseberangan dengan Rilis Resmi, Penanganan Etik Brigadir Ayu di Polres Sampang Dipertanyakan

Sabtu, 31 Januari 2026 - 13:22 WIB

“Izin Tak Jelas, Royalti Tak Beres: Konser Valen di Sampang Terancam Dibubarkan”

Berita Terbaru