Pamekasan (lenterapost.id) – Malam di Desa Ambat, Dusun Semaling, Kecamatan Tlanakan, tiba-tiba berubah jadi panggung rasa. Bara arang menyala, asap putih mengepul, dan aroma sate daging qurban menusuk udara. Di halaman kediaman Al Wafa, Ketua Bidang Advokasi IWO PD Pamekasan, insan pers Pamekasan kompak gelar pesta sate Idul Adha 1447 H, Kamis malam 29 /2026.
Kipas angin merah meraung, jadi “blower” darurat yang menghidupkan bara. Tusuk bambu berjejer di atas tungku sederhana. Satu sisi sate mentah antri menunggu giliran, sisi lain sudah kecoklatan dan siap dilahap. Nampan hijau dan merah jadi saksi bisu, sate datang dan pergi silih berganti.
Dari foto terlihat 5 orang melingkar. Ada yang serius membolak-balik sate, ada yang angkat tusuk ke kamera sambil senyum dan jempol. Nggak ada meja mewah, nggak ada kursi empuk. Cuma paving, kerikil, dan semangat kebersamaan yang bikin suasana makin panas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Al Wafa membuka rumahnya tanpa sekat. “Rumah wartawan ya harus jadi rumah bersama. Daging qurban barokah, kalau dinikmati bareng rasanya dobel nikmatnya,” ujarnya sambil meniup bara yang sempat padam.
Canda tawa meledak tiap ada sate yang gosong sebelah. Ada yang teriak “kipasnya kurang kenceng!”, ada yang balas “yang penting kebersamaannya yang nyala!”. Di tengah kesibukan itu, obrolan mengalir bebas: dari isu daerah sampai rencana liputan ke depan.
Bagi IWO PD Pamekasan, malam itu bukan sekadar bakar-bakar. Ini ritual pelepas penat setelah kerja jurnalistik seharian. Dari balik kamera dan laptop, mereka duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, sama-sama jadi tukang sate dadakan.
Ketua IWO PD Pamekasan Dyah Heny Andrianty ikut larut dalam kehangatan itu. Ia menegaskan, bara yang menyala malam ini harus jadi bara semangat organisasi.
“Malam ini buktinya, kita solid bukan cuma di tulisan berita. Saya harap kekompakan ini terus menyala. Dengan bara yang sama, kita jaga independensi, kuatkan kontrol sosial, dan kawal Pamekasan biar makin maju,” tegas Heny.
Saat malam makin larut dan sate terakhir habis, yang tersisa bukan cuma abu arang. Tapi energi baru, tawa yang masih menggema, dan janji untuk terus menjaga silaturahmi. Karena buat IWO PD Pamekasan, sate boleh habis, tapi solidaritas nggak boleh padam.













